Kamis, 06 Desember 2018

Brigata Curva Sud, Kreatifitas Suporter Bola yang Bikin Salut



Suara Gajah Mada – PSS Sleman berhasil meraih gelar juara Liga 2 setelah mengalahkan Semen Padang 2-0, Selasa (4/12/2018). Selain berhak melaju ke Liga 1, PSS Sleman pun diganjar hadiah uang Rp 1,5 Milyar. Seorang pemainnya juga berhasil menjadi pemain terbaik Liga 2, yakni Ichsan Pratama. Ia berhak atas uang Rp 150 juta.

Brigata Curva Sud (BCS) Peduli Palu dan Donggala (Foto : twitter @BCSxPSS)


Tetapi kali ini kita tidak akan membahas tentang prestasi PSS Sleman. Kita akan melihat lebih dekat tentang supoter fanatik PSS Sleman, Brigata Curva Sud alias BCS. Ini bukan sekedar kisah suporter yang datang ke stadion untuk meluapkan emosi dan mengumbar kegembiraan. Melainkan kisah sekelompok suporter yang berpengaruh dalam merevolusi gaya suporter di Indonesia agar lebih santun dan kreatif.


Lahir pada tahun 2010 lalu, kelompok suporter ini mengusung banyak keunikan. Memilih aliran Ultras, BCS tegas menjauhkan diri dari afiliasi politik sekaligus mengkampanyekan anti rasis. Tidak heran dalam lirik lagu yang mereka nyanyikan sepanjang pertandingan, tidak akan ada kata-kata ‘… dibunuh saja’ yang telah lumrah dinyanyikan suporter tanah air.
Keunikan lain dari BCS, mereka mengenakan pakaian hitam dan bersepatu. Mereka juga tidak akan duduk selama timnya bertanding. Di eropa, aliran ultras inilah yang kemudian membuat beberapa stadion sengaja menyediakan tribun tanpa kursi.

Pengakuan atas kreatifitas dan loyalitas BCS mulai terekpose media secara masif setelah pada Februari 2017 lalu sebuah situs digital tentang bola, Copa90, merilis dalam akun Youtube mereka tentang suporter terbaik di Asia. Dalam video yang diberi titel Top Incredible Asian Ultras menempatkan BCS di perinkat pertama mengungguli Urawa Boys (Jepang), Frente Tricolor (Korea Selatan), Boys of Straits (Malaysia) dan Bangal Brigade (India).


Tak heran jika suporter setia Elang Jawa (julukan PSS Sleman) tersebut langsung mendapatkan banyak sorotan. Meskipun dari ‘keras’nya arena sepakbola tetapi kita bisa mengambil nilai-nilai kebaikan untuk kehidupan dari BCS.

Langkah Kreatif BCS yang Menginspirasi

§  Mandiri : dengan mencantumkan manifesto ‘ Mandiri Menghidupi’ BCS mewujudkannya dalam usaha nyata. Dengan sukarela BCS menambahkan harga tiket Rp 1000 dalam setiap lembar untuk tribun selatan. Uang ini akan dikelola untuk BCS. Selain itun BCS juga membuka toko marchandise berupa kaos, sepatu, syal, pin dan lainnya. Pusatnya berada di Jalan Delima Raya Condongcatur, juga ada cabang di Cebongan, Godean, Sidoarjo dan Jakarta. Selain bisa menghidupi BCS, dengan keuntungan di atas Rp 100 juta per bulan, Curva Sud Shop (CSS) ini juga mampu menyumbangkan dana untuk PSS dan membelikan alat fisioterapi.

§  Disiplin : Meskipun BCS tidak mengkultuskan satu orang sebagai pemimpin (no leader just together), mereka tetap menghormati aturan yang sudah menjadi komitmen. Berpakaian dominan hitam, bersepatu, tidak menyanyikan chant rasis, dan pantang masuk tanpa membeli tiket. Mereka gigih menularkan gerakan ‘No Ticket No Game’. Sangat anomali, di tengah kebiasaan suporter yang masuk dengan segala cara ke stadion tanpa membeli tiket.

§  Gigih : Sesuai manifesto mereka, ‘Ora Muntir’. BCS akan mendukung selama pertandingan sambil berdiri. Tidak hanya laga kandang, melainkan mereka juga mendukung tim kebanggan ketika menjalani laga tandang.

§  Santun : Meski pernah mengalami gesekan dengan supoter lain, BCS menjunjung tinggi paseduluran, persaudaraan. Mereka merevolusi chant-chant dan lirik lagu suporter Indonesia yang sebelumnya sering diselingi nada-nada rasis dan ancaman. Mereka mengganti dengan lagu khas BCS seperti ‘Sampai Kau Bisa, Ale-ale Super Elja, dan lainnya. Bahkan telah terkompilasi dalam beberapa album. Di Youtube, chant-chant milik BCS mendapatkan banyak respect dari suporter dalam maupun luar negeri.

§  Pintar : BCS sadar akan pentingnya edukasi dan budaya literasi. Tidak heran jika mereka mengelola serius berbagai media online yang ada. Selain situs resmi bcsxpss.com, radio, media sosial, tv, dan lainnya. Suporter PSS juga teredukasi dengan tulisan-tulisan di sleman-football.com yang menyuguhkan aneka tulisan menarik.

Tanpa mengesampingkan prestasi suporter lain di Indonesia. Itulah sekelumit cerita tentang BCS, kelompok suporter yang tidak hanya mensupport tim melalui teriakan, melainkan dengan langkah nyata yang bahkan mampu merevolusi gaya suporter Indonesia. [e]

Sumber: bcsxpss.com, panditfootball.com

Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 komentar: