Kamis, 27 Desember 2018

Tunov Mondro Atmojo, Petani Cabe yang Mampu Memangkas Para Tengkulak


Suara Gajah Mada – Tidak lagi menjadi sebuah rahasia, petani kerap kali menjadi pihak yang paling dirugikan karena ulah para tengkulak. Belum lagi adanya berbagai kebijakan yang tidak berpihak kepada petani. Misal, saat puncak panen padi, keran impor justru dibuka yang membuat harga gabah turun.

Tunov Mondro Atmojo
(foto : www.duniawanita009.blogspot.com)

Permainan harga menjadi momok tersendiri bagi petani, bayangkan setelah menunggu sekian bulan untuk memetik hasil dan berharap keuntungan justru harga penjualan turun. Padahal kerap kali harga di pasaran yang ditetapkan kepada konsumen tetap tinggi. Namun keuntungan tidak dinikmati oleh petani, melainkan para juragan dan pemodal.

Pola distribusi yang dikuasai segelintir orang, diduga mengakibatkan terjadinya permainan harga. Melihat kondisi demikian, adalah Tunov Mondro Atmojo petani cabai dari Magelang yang memiliki langkah brilian memotong mata rantai tengkulak.


Pada tahun 2010, petani cabai di Magelang terpukul dengan penurunan harga yang tidak wajar. Satu kilo gram cabai hanya dihargai Rp 2000. Sehingga banyak petani yang merugi. Tergerak melihat kondisi tersebut Tunov turun tangan dan melihat persoalan yang ada.

Ia kemdudian mengajak dialog para petani cabai yang memiliki lahan kisaran 3000 meter persegi. Alumni SMA Muhammadiyah Magelang tersebut memiliki alasan khusus. Menurutnya lahan 3000 meter merupakan lahan ideal, dengan ongkos produksi yang efektif dengan panen maksimal.

Perlahan ia mengedukasi petani untuk menghitung ongkos produksi. Menurutnya, agar mendapatkan keuntungan yang cukup, harga cabai per kilogram minimal dipatok pada angka Rp 20.000. Tetapi angka ini sulit dicapai karena tengkulak ingin membeli harga semurah-murahnya dari petani. Maka Tunov pun mulai merancang jalur penjualan tunggal. Ia melarang petani menjual cabainya sendiri-sendiri.


Cabai-cabai hasil panen kemudian dikumpulkan dan para pedagang diundang untuk mengikuti lelang. Dengan cara ini harga cabai dari petani terkerek naik. Selain itu sekali waktu Tunov melancarkan ‘operasi pasar’ ke Jakarta. Ketika harga cabai di pasaran naik tak wajar ia mengirim langsung cabai dari petani ke pasar Jakarta. Akibatnya para tengkulak yang ingin meraup untung besar justru merugi sebab para pedagang lebih memilih cabai pasokan dari kelompok tani yang digagas Tunov.

Atas langkah brilian ini, Tunov kerapkali diajak berdiskusi oleh Kementerian terkait untuk menentukan harga produk pertanian. Kini bukan hanya petani di Dusun Tanggulangin, Desa Girikulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah saja yang tergabung dalam Kelompok Tani Giri Makmur, melainkan petani dari Grabag dan Kopeng Salatiga. Sekitar 700 petani sekarang kompak memainkan peran penting untuk memerangi mafia cabai. [e]


Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 komentar: