Selasa, 20 November 2018

Lebih Menguntungkan, Petani Tembakau di Temanggung Beralih Tanam Kopi



Petani tembakau di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah siap beralih menanam komoditas kopi. Selain mengantisipasi apabila terjadi pembatasan pertanian tembakau, para petani merasa komoditas kopi lebih menguntungkan dan bisa panen berulang kali hanya dengan sekali tanam.


Memanen Kopi (Foto : wawasan.co)

Bahkan kini telah tumbuh kawasan-kawasan desa wisata di Temanggung yang menyuguhkan kopi sebagai daya tarik utama, selain keindahan alamnya. Para petani menganggap pertanian tembakau tidak lagi terlalu menguntungkan secara finansial karena harga tembakau yang tidak stabil serta adanya permainan dari para tengkulak.

Dalam sebuah diskusi yang digelar Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) pada Septermber 2018 lalu juga terungkap para petani sadar yang justru menikmati hasi justru para pedagang dan pabrik rokok.


Seorang warga Desa Tlahap, Kledung, Kabupaten Temanggung menuturkan suka duka menanam tembakau. Kini kebun miliknya telah ditanami kopi dan siap panen. Ia pun mulai menikmati hasilnya, setiap hari Ahad ia sibuk melayani para pembeli minuman kopi yang ingin menikmati di kafe yang dibangun di tengah kebun kopi.

Seperti dikutip suaramerdeka.com, Yamidi, seorang mantan petani tembakau menjelaskan, di desanya kini telah ada sekitar 15 merek kopi ternama hasil produksi petani. Saat ini tanaman kopi tersebut masih ditanam di sela-sela pohon tembakau, sehingga memiliki aroma tembakau.


Dari hasil diskusi yang digelar oleh UMM tersebut, memberikan pencerahan kepada para petani tembakau untuk tidak anya bertani secara monokultur mengandalkan  tembakau. Tetapi sudah mulai ada kesadaran untum menerapkan pertanian multikultur, bahkan dalam kesempatan tersebut dibentuk Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI).

Satu di antara sikap yang dinyatakan bersama dalam diskusi tersebut ialah, tembakau  bukanlah komoditas yang menguntungkan petani. Meskipun sebagai pangsa pasar ketiga terbesar di dunia dalam hal rokok, nyatanya para petani tembakau tidak menikmati hasilnya. Keuntungan hanya didapatkan para pedagang dan perusahaan rokok.

Selain itu dalam berbagai penelitian dinyatakan rokok menimbulkan berbagai penyakit. Tingkat belanja untuk konsumsi rokok pada golongan miskin lebih tinggi ketimbang alokasi dana untuk kesehatan dan pendidikan. [e]

Sumber: kabarbisnis.com, suaramerdeka.com

Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

0 komentar: