Kamis, 22 November 2018

Lasiyo Syaifuddin, ”Profesor” Pisang Sukses Berdayakan Masyarakat


Suara Gajah Mada - Berawal dari keprihatinan paska gempa yang melanda Bantul pada tahun 2006, Lasiyo Syaifuddin tergerak untuk berbuat sesuatu untuk masyarakat sekitar. Pada tahun 2007 atau beberapa bulan setelah gempa, ia masih melihat puing rumah-rumah yang berserakan serta hamparan pekarangan, membuatnya terbetik gagasan untuk menanam pisang. Alasannya sangat simpel, ia ingin memberi tambahan penghasilan bagi masyarakat dan pohon pisang dianggap paling cocok di tanam serta relatif cepat menghasilkan.

Pak Lasiyo Syaifuddin bersama Pohon Pisang Siap Tanam
(Foto: kabartani.com)

Warga Dusun Ponggok, Sidomulyo, Bantul, Yogyakarta ini kemudian menyampaikan gagasan itu kepada masyarakat dan pihak desa. Ia pun mendapat dukungan dari desa dengan pemberian bantuan dana untuk pembelian bibit pohon pisang.


Penanaman tersebut dilakukan secara masif, menurut Lasiyo, setiap Kepala Keluarga (KK) rata-rata mempunyai 100 pohon pisang. Dengan jumlah KK di dusun tersebut sekitar 300 KK. Meski dengan pengalaman terbatas, pria kelahiran 1955 tersebut bertekad untuk bisa berbuat sesuatu untuk dusunnya. Sebagai awalan, pisang yang ditanam tidak pilih-pilih. Jenis yang ditanam antara lain pisang ambon, pisang raja, pisang uter, pisang kepok, pisang klutuk dan pisang pulut.

Pihak desa memberikan bantuan dengan nilai Rp 5000 per bibit. Dengan kerja keras dan kekompakan seluruh warga, akhirnya bisa menyulap Dusun Ponggok seolah menjadi hutan pohon pisang. Untuk mendampingi warga dalam mengelola perkebunan pisang, dibentuk kelompok tani. Sehingga memudahkan dalam edukasi perawatan dan pasca panen.

Bergelar “Profesor” Pisang

Gagasan Pak Lasiyo yang tampak sederhana tersebut nyatanya mampu mengubah wajah Dusun Ponggok. Pria tamatan kejas Paket B atau setara SMP itu secara tekun juga mempelajari seluk beluk penanggulangan hama dan pemupukan pohon pisang. Khususnya secara alamiah dengan bahan nabati. Sehingga pohon pisang yang ditanam bisa menghasilkan produk yang bagus. Tak heran jika kemudian banyak ahli pertanian yang tertarik dengan berbagai penemuannya.

Mereka tidak hanya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Melainkan juga para peneliti dari berbagai negara, semisal Afganistan, Australia, Jepang, Italia bahkan Belanda. Pak Lasiyo juga kerap diundang di perbagai seminar untuk berbagi pengalaman. Baik di dalam maupun di luar negeri.


Kisah sukses Pak Lasiyo tentu patut menjadi pelajaran bagi siapa saja yang ingin membangun desa. Untuk memberdayakan masyarakat bisa melihat potensi lokal, bisa saja dari hal yang sangat sederhana. Sehingga untuk bekerja dan berguna, tidak mesti harus merantau ke kota. Atau berputus asa karena tidak diterima bekerja di perusahaan atau menjadi pegawai negeri. Dengan niat yang tulus dan ketekunan, maka hasilnya cepat atau lambat akan didapat. [e]

Anda yang tertarik bisa belajar langsung ke Dusun Ponggok Sidomulyo Bambanglipuro Bantul. Untuk mencapai lokasi ini, jika dari Kota Yogyakarta silakan melewati Jalan Bantul (Pojok Beteng Kulon Kraton) ke selatan lurus. Sekitar 15 Km sampai ketemu Puskesmas Bambanglipuro, kemudian ambil jalan arah ke timur.

Bisa juga mencermati Google Maps berikut



Sebelumnya
Berikutnya

Penulis:

1 komentar:

  1. sudah saatnya mengoptimalkan potensi lokal untuk kesejahteraan masyarakat

    BalasHapus